PERNIKAHAN MUSLIM DENGAN NON MUSLIMAH

Penulis : Muhtar Lutfi, S. H. I

PENDAHULUAN

Penikahan merupakan suatu tahap proses kehidupan manusia yang pada umumnya akan dilalui oleh setiap insan. Kehidupan dunia ini bagaikan lautan samudera yang sangat luas dan untuk mengarunginya kita harus memiliki sebuah kapal ataupun bahtera yang diperawaki dengan orang-orang yang tepat di dalamnya. Begitulah kehidupan rumah tangga dalam kehidupan ini, ibaratnya bagai sebuah bahtera yang akan mengarungi lautan dunia nan luas.

Islam sebagai ajaran yang sangat sempurna mengajarkan bagaimana cara agar kita dapat mengarungi lautan tersebut dengan selamat sampai tujuan, yaitu di antaranya dengan memilih pendamping nahkoda yang memang berkualitas baik dari segi keturunan, fisik, psikis, dan moral religius. Dan Islam lebih mengedepankan yang berkaiatan dengan masalah agama, karena hal ini sangat urgen dan rentan, karena selain menyangkut akidah si pasangan nahkoda ( suami isteri ) tersebut, hal ini juga akan berefek samping kepada keturunan mereka yang akan menjadi awak dari kapal tersebut.

Kini, bahkan memang sejak lama telah banyak kasus mengenai perkawinan beda agama, baik di negara kita maupun di negara lainnya. Maka dalam kesempatan ini pemakalah akan mencoba mengupas kembali bagaimana Islam menyikapi permasalahan ini dilihat dari sudut pandang perbandingannya ( Muqoronah ).

 

 

PEMBAHASAN

A.        Dasar Hukum serta Pengertian Wanita Musyrikah dan Kitabiyah

            Mengenai status hukum menikahi perempuan musyrikah, didasari firman Allah SWT:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (البقرة :221)

Janganlah kalian menikahio perempuan musyrikah sehingga mereka beriman dan sungguh budak yang beriman itu terlebih baik dibandingkan dengan perempuan musyrikat sekalipun dia membuatmu kagum, dan janganlahkalian menikahi (anak perempuan kalian)dengan lelaki musyrik sehingga mereka beriman, sunguh budak lelaki yang beriman itu lebih baik dari pada lelaki musyrik sekalipun dia membuatmu terkagum, mereka itu membawamu ke neraka, sedangkan Allah akan membawamu ke arah syurga dan pengampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menjelaskan tanda-tandanya kepada manusia supaya mereka berfikir.” (QS. al- Baqoroh : 221)

            Mengenai ayat di atas Sa’id bin Jubeir mengatakan bahwa makna المشركات adalah para wanita penyembah berhala. Hal senada juga diungkapkan oleh Ibrahim ketika ditanya oleh Hammad. Beliau menjelaskan bahwa المشركاتadalah orang-orang Majusi dan para penyembah berhala. Ada juga yang mendefinisikan kata  المشركاتdengan semua pemeluk agama yang tidak mempunyai kitab suci[1].

            Dari beberapa penjelasan para ulama di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan  المشركات adalah : para wanita pemeluk agama selain Islam dan tidak memiliki kitab suci, seperti Majusi, para penyembah berhala dan sebagainya. Berbeda dengan ahli kitab ( kitabiyah ) yang di antaranya adalah Nasrani dan Yahudi karena mereka adalah pemeluk agama Samawi dan memiliki kitab suci sehingga para ulama tidak memasukkannya ke dalam golongan المشركات dan memiliki status hukum yang berbeda juga. Firman Allah SWT :

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ… (المائدة : 5 )

Pada hari ini dihalalkan bagimu mkakan yang baik-baik dan makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al Kitabitu halal bagimu dan makanan kamu halal pula bagi mereka. Dan dihalalkan bagimu mengawini wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu,… ( QS. al-Maidah : 5 )

 

            Namun, ada juga para ulama yang tidak membedakan antara  المشركاتdengan wanita kitabiyah, bagi mereka yang disebut المشركاتdengan adalah semua wanita pemeluk agama selain Islam tanpa terkecuali termasuk ahli kitab ( kitabiyah ). Perbedaan pendapat ini Insya Allah akan diurai lebih mendalam pada pembahsan berikutnya.

 

B.        Pendapat Para Ulama Mengenai Status Hukum Menikahi Wanita Non Muslimah

            Jumhur ulama termasuk mazhab yang empat sepakat bahwa menikahi wanita musyrikat, atheis dan murtaddah hukumnya adalah haram. Pengaharaman menikahi wanita musyrikat ini didasari oleh firman Allah yang termaktub dalam surat Al Baqarah ayat 221 di atas. Sedangkan wanita atheis haram untuk dikawini karena mereka lebih jahat daripada wanita musyrikah. Wanita musyrikah masih mempercayai adanya Tuhan yang menghidupkan dan mematikan, hanya saja mereka menduakan dan menyekutukannya dengan yang lain. Sedangkan wanita atheis tidak mempercayai adanya Tuhan sama sekali. Adapun wanita murtaddah yaitu yang telah keluar dari agama Islam, tidak boleh dikawini sama sekali walaupun kemudian dia memeluk agama ahli kitab[2], sebab dengan kemurtadannya itu mengakibatkan adanya hukum bunuh atas dirinya, berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

من بدّ ل دينه فاقتلوه

“siapa saja yang merubah agamanya maka bunuhlah dia”.

            Namun, ketika menetapkan status hukum terhadap pernikahan muslim dengan kitabiyah para ulama berbeda pendapat. Sehingga mereka menjadi dua golongan besar, satu golongan adalah pendapat yang tidak membolehkan dan golongan lain membolehkan menikahi perempuan kitabiyah.

 

1.      Pendapat Yang Tidak Membolehkan

Pendapat ulama yang tidak memperbolehkan pernikahan macam ini di antaranya adalah pendapatnya Syiah Imamiyah dan sebagian Syiah Zaidiyah[3], menurut mereka bahwa pernikahan seorang muslim dengan wanita non muslimah itu hukumnya haram secara mutlak, terlepas apakah si wanita itu dari golongan Atheis, Majusi, Murtaddah, Nasrani ataupun Yahudi. Karena bagi mereka kesemua golongan yang disebutkan di atas tadi merupakan satu golongan besar yang sama yaitu golongan orang kafir dan golongan orang musyrik. Mereka menyandarkan pendapatnya kepada apa yang telah dikatakan oleh Abdullah Bin Umar Ra. Sebagaimana yang telah dikutip oleh Muhammad Ali as Shobbuni dari kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhori[4].

حرّم الله تعال المشركات على المسلمين ولا اعرف شيئا من الإشراك أعظم من أن تقول المرأة : ربهاعيسى,…

“Allah Ta’ala telah mengharamkan wanita musyrikat untuk kaum muslimin dan tidak aku ketahui perbuatan syirik yang paling besar selain bahwa seseorang berkata bahwaTuhannya adalah Isa,…(Al Hadis).

 

Mereka juga berpendapat bahwa ayat 5 dari surat al Maidah yang isinya membolehkan menikahi wanita ahli kitab itu telah dinasakh oleh ayat 221 yang ada di dalam surat Al Baqarah[5], sehingga kebolehan yang telah ada itu berubah menjadi keharaman yang mutlak.

Imam Jalaludin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuti menyebutkan dalam karangannya ad-Dur al-Mantsur bahwa Hasan ditanya mengenai seorang lelaki yang menikahi ahli kitab dan sebaliknya. Sungguh Allah telah menciptakan banyak perempuan muslimat. Hasan menambahkan. Namun, jika pernikahan itu memang harus dilakukan maka kerjakanlah dan buatlah perjanjian dengannya dan juga pilihlah perempuan yang baik-baik jangan perempuan yang lacur[6].

Dari riwayat di atas juga dapat ditarik kesimpulan memang pada dasarnya, menikahi ahli kitab itu dilarang. Dan adanya kebolehan menikahi wanita ahli kitab itu dikarenakan adanya unsur darurat yang memang dalam kondisi dalam seperti ini bisa membolehkan segala sesuatu yang sebelumnya tidak diperbolehkan. Sesuai dengan kaidah

الضّرورات تبيح المحظورات[7]

 

“segala sesuatu yang daruarat itu bisa membolehkan segala sesuatu yang dilarang”

Sehingga setelah unsur darurat itu hilang maka kembalilah hukum itu ke status asalnya yaitu tidak diperbolehkan.

Imam ar-Razi dalam tafsirnya sebagaimana dikutip oleh Abdul Mutaal Muhammad al-Jabry juga mengingatkan bahwa mayoritas ualama berpendapat pengertian kata musyrik itu mencakup di dalamnya orang-orang kafir dari ahli kitab, ada beberapa bukti menurutnya yang bisa memperkuat pendapat ini.

Pertama, firman Allah SWT :

 وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ .اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ ( التوبة : 3031 )

“Orang-orang Yahudi berkata : Uzair itu putera Allah dan orang nasrani berkata : al Masih itu putera Allah. Demikianlah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu, dilaknatlah mereka sebagaimana mereka berpaling. Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan juga mereka mempertuhankan al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh  menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. ( QS. At-Taubah : 30-31)

 

Ayat ini menyatakan denga tegas bahwa orang-orang  Nasrani dan Yahudi termasuk oarng-orang musyrik.

Kedua. Firman Allah SWT :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ… ( النساء : 48 )

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya,… (QS. al- Nisa : 48 )

 

Ayat ini menunjukkan bahwa dosa selain syirik terkadang diampuni oleh Allah SWT, secara keseluruhan. Seandainya kekufuran orang Yahudi dan Nasrani tidak termasuk syirik, tentunya menurut pengertian ayat ini, dosa mereka akan diampuni oleh Allah secara keseluruhan, dikarenakan agamaYahudi dan Nasrani itu bathil maka tahulah kita bahwa kekufuran mereka itu termasuk syirik.

Ketiga, Firman Allah SWT :

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ… (المائدة : 73 )

   “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah adalah salah satu dari yang tiga,… ( QS. al-Maidah : 73 )

 

Trinitas yang tersirat dalam ayat ini makin menjelaskan bahwa perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyekutukan Allah dengan lainnya adalah suatu perbuatan kekufuran yang jelas kemusyrikannya[8].

Di dalam ad-Dur al-Mantsur juga disebutkan bahwa Abdullah bin Abbas Ra. Pernah berkata: Rasulullah SAW telah melarang untuk menikahi semua golongan wanita, kecuali mukminat yang muhajirat. Diharamkan terhadap seseorang beragama selain dengan agama Islam[9].

2.      Pendapat Yang Membolehkan

Jumhur berpendapat bahwa keharaman nikah terhadap wanita musyrikah yang terdapat di dalam surat Al Baqarah itu sifatnya umum, kemudian ditakhsiskan dengan ayat yang ada di dalam surat Al Maidah ayat 5 yang intinya  adalah mengecualikan wanita kitabiyah dari wanita musyrikah[10]. Pembedaan kategori wanita ini juga terlihat dalam firman Allah yang lain yaitu seperti dalam ayat 105 dari surat Al Baqarah yang berbunyi:

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ… (البقرة :105 )

“Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrikin tiada menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu,… ( QS. al-Baqoroh : 105 )

 

Demikian juga dalam ayat-ayat yang lain selalu dipisahkan antara kategori musyrik dengan ahli kitab, ini menandakan bahwa ahli kitab ini bukanlah musyrik sehingga dalam hukumnya juga memiliki status yang berbeda.

Berdasarkan surat Al maidah ayat 5 tadi maka jumhur berpendapat bahwa menikahi kitabiyah hukumnya adalah boleh sebagaimana diperbolehkannya memakan hewan yang mereka sembelih.

Sayyid Sabiq menyebutkan pendapat ini juga merupakan ijma’ para sahabat dan tabi’in, diantaranya, Usman, Tolhah, Ibn Abbas,Jabir, Hudzaifah, dari golongan lainnya. Para ulama juga menetapkan kebolehan ini berdasarkan apa yang telah para sahabat dan tabi’in perbuat, sebagaimana Sayyidina Utsman menikahi perempuan Nasrani yang bernama Nailah, Hudzaifah juga menikahi seorang wanita dari golongan Yahudi[11], walaupun pada saat itu Sayyidina Umar memberikan peringatan, namun jumhur berpendapat, peringatan atau larangan yang diberikan Sayyidina Umar hanyalah merupakan tindakan himbauan dan dikhawatirkan akan terjadi fitnah bagi keturunan mereka, bukan larangan mutlak[12] yang menandakan bahwa pernikahan muslim dengan wanita kitabiyah itu hukumnya boleh.

Namun, sekalipun jumhur telah menetapkan kebolehan ini, mereka masih berselisih pendapat apakah kebolehan tersebut bersifat mutlak atau ada hal lainnya. Abdurrahman Al Jaziry menjabarkan tentang ikhtilafnya sebagai berikut.

a.       Golongan Hanafiyah

Menurut mereka menikahi wanita kitabiyah itu diperbolehkan dan statusnya makruh jika dilakukan terhadap kitabiyah yang dzimmi, dan dimungkinkan bisa ditegakkan hukum Islam. Namun, jika dilakukan terhadap kafir harbi dan apalagi di negara yang non Islam maka mereka berpendapat hukumnya menjadi haram, karena hal ini akan lebih memungkinkan terbukanya fitnah (kerusakan), oleh karena nanti anak yang dilahirkan akan besar kemungkinannya untuk enggan terhadap agama Islam dikarenakan mereka tinggal bukan di lingkungan yang islami.

b.      Golongan Malikiyah

Bagi mereka ada dua pendapat. Pertama; menikahi wanita kitabiyah itu hukumnya makruh secara mutlak, baik termasuk golongan dzimmi maupun harbi. Namun, apabila berada di negara non Islam itu lebih dimakruhkan lagi. Kedua; tidak makruh menikahi wanita kitabiyah, hal ini didasari oleh dzahir firman Allah yang membolehkannya secara umum tanpa persyaratan apapun.

c.       Golongan Syafi’iyyah

Bagi mereka dimakruhkan menikahi wanita kitabiyah di negara Islam, apalagi di negara non Islam, sebagaimana dua pendapat di atas. Bagi Syafi’iyah pernikahan macam ini dibenarkan walaupun makruh, jika memenuhi syarat sebagai berikut :

1)      Si wanita kitabiyah itu bisa diharapkan (besar kemungkinannya) untuk masuk Islam.  

2)      Si lelaki muslim tersebut tidak mendapati wanita muslimah yang layak dan pantas untuk dia.

3)      Dikhawatirkan apabila pernikahan tersebut tidak dilangsungkan maka akan terjadi perbuatan zina.

 

d.      Golongan Hanabilah

Mereka berpendapat halal menikahi wanita kitabiyah tanpa ada kemakruhan di dalamnya, karena ayat yang membolehkan itu bersifat umum[13].

 

C.        TARJIH

Pada dasarnya pemakalah sependapat terhadap pendapat para ulama yang membolehkan menikahi wanita kitabiyah berdasarkan argumen dan dalil yang telah dijelaskan di atas, dengan maksud agar tidak menyalahi nash yang telah ada dan bersifat qoth’i tersebut. Namun, apabila masalah tersebut dikembangkan dan diterapkan untuk masa sekarang ini maka akan terbentur kepada masalah apakah wanita-wanita Nasrani dan Yahudi yang ada pada masa sekarang masih termasuk kepada golongan ahlul kitab atau tidak yang sebagaimana dimaksud ayat 5 surat Al Maidah. Karena dari sebagian pendapat ulama Syafi’iyah mereka memberikan penjelasan bahwa wanita kitabiyah itu merupakan golongan ahli kitab yang ada sebelum diutusnya Rasul sehingga dengan kata lain ahli kitab yang ada setelah zaman Rasul yang tidak beriman kepada beliau, maka mereka tidak termasuk golongan ahlul kitab tersebut[14].

            Dari beberapa argumen dan dalil yang ulama berikan tentang kebolehan nikah tersebut dapat digaris bawahi bahwa mayoritas mereka membolehkannya dalam status makruh, dan hal ini juga atas didasari suatu kepentingan yang mengutamakan kemashalatan dan meniadakan mafsadat. Maka pemakalah lebih condong untuk berpendapat bahwa menikahi wanita kitabiyah yang ada pada masa sekarang ini hukumnya adalah haram, sebagai suatu tindakan sadduzzari’ah, agar tidak terjadi madharat lanjutan yang diakibatkan dari pernikahan terhadap wanita kitabiyah tersebut. Karena ada beberapa efek samping yang akan terjadi jika kita lebih mengutamakan menikah dengan wanita kitabiyah diantaranya adalah jika dalam negara tersebut jumlah lelaki muslim lebih sedikit, maka yang dikhawatirkan adalah wanita muslimah yang ada akan banyak yang ”perawan tua” sehingga akan ada kemungkinan mereka juga tidak mau menikah dengan lelaki muslim.sehingga Yusuf Qordhowi pun dalam menilai hal ini karena dikhawatirkan akan timbulnya masyaqqoh,beliau mengharamkan pria muslim menikah dengan selain muslimah sekalipun dia itu kitabiyah[15].

            Untuk masalah ini MUI juga telah mengeluarkan fatwa pada tanggal 26 Mei-1 Juni 1980 bahwa pernikahan muslim terhadap non muslimah itu hukumnya haram[16].Hal senada juga telah dikeluarkan dalam mauktamar NU tahun 1962 dan Muktamar Thoriqoh Muktabaroh tahun 1968[17].

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

            Dari uraian yang telah di jabarkan di atas dapat kita renungkan dan ambil pelajaran, betapa Islam terus menuntut kita agar menjalani kehidupan ini dengan sebaiknya. Terlepas dari apapun yang telaj diputuskan di atas kita harus ingat bahwa Allah berfirman :

 

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ… (البقرة : 120 )

“Kaum Yahudi dan nasrani tidak akan ridho terhadapmu sampai kamu mengikuti agama mereka,… ( QS. al-Baqoroh : 120 )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al-Quran al-Karim

 

Handrianto, Budi, Perkawinan Agama dalam Syariat Islam (Jakarta: Khairul Bayan, 2003) cet. I.

 

Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa (Arab Saudi: King Su’ud, 1978), Juz XXXIII.

 

Jabry, Abdul Muta’al Muhammad al-, Perkawinan Camouran Menurut Pandangan Islam, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1998 ) cet. III.

 

Jaziry, Abdurrahman al-, al fiqh ‘ala Madzahib al-‘Arba’ah ( Beirut: Dar al-Qolam, tt ) jld.III

 

Muqoddasi, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-, al-Mughni,(Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyah,1994), juz VI.

 

Shobbuni, Muhammad Ali ash-, Rowai’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Quran, ( Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2001 )cet. I, juz. I.

 

Suyuti, Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakr as-, ad- Dur al-Mantsur Fi Tafsir al-Mantsur, ( Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyah, 1990 ), juz I.

 

…………., al Asybah wa an-Nazhoir fi al-Furu’ , (Jakarta: Dar al-Kutb al-Islamiyah, tt)

 

Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah ( Beirut: Dar al-Tsaqofah, tt) jld.II.



[1]               Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakr as- Suyuti, ad- Dur al-Mantsur Fi Tafsir al-Mantsur, ( Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyah, 1990 ), juz I, h.458

[2]               Abdul Muta’al Muhammad al-Jabry, Perkawinan Camouran Menurut Pandangan Islam, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1998 ) cet. III,h. 7-8

[3]               Budi Handrianto, Perkawina Agama dalam Syariat Islam (Jakarta: Khairul Bayan, 2003) cet. I, h. 53

[4]               Muhammad Ali ash-Shobbuni, Rowai’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Quran, ( Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2001 )cet. I, juz. I, h. 225

[5]               ibid

[6]               Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakr as- Suyuti, Op.Cit, Juz. II, h. 462

[7]               Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakr as- Suyuti, al Asybah wa an-Nazhoir fi al-Furu’ , ( Jakarta: Dar al-Kutb al-Islamiyah, tt ) h.60

[8]               Abdul Muta’al Muhammad al-Jabry, Op.Cit, h. 70-73

[9]               Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakr as- Suyuti, Loc Cit

[10]             Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa (Arab Saudi: King Su’ud, 1978), Juz XXXIII, h. 180

[11]             Sayyid Sabiq, Fiqh as-Sunnah ( Beirut: Dar al-Tsaqofah, tt) jld.II, h. 67

[12]             Muhammad Ali ash-Shobbuni, Op.Cit, h. 425

[13]             Abdurrahman al-Jaziry, al fiqh ‘ala Madzahib al-‘Arba’ah ( Beirut: Dar al-Qolam, tt )jld.III, h.66-68

[14]             Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah al-Muqoddasi, al-Mughni,(Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyah,1994), juz VI

[15]             Yusuf al Qordhowy, al-Halal wa al-Haram fi al-Islam ( Afrika : Dar al-makrifah, tt )h. 178

[16]             Budi Handrianto, Op.Cit, h. 96-98

[17]             A.Aziz Masyhuri, Masalah keagamaan Hasil Muktamar da n Munas Ulama NU, ( Jakarta: Qultum Media, 2004 )jld.II, h. 66

2 responses to this post.

  1. Posted by sma mu on Mei 4, 2009 at 10:35 pm

    mana yang lain ????

    Balas

  2. Posted by MU on Mei 4, 2009 at 10:37 pm

    waduh…. bahas nikah lagi…nikah lagi. mang dah nikah ?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: